
Dalam sebuah hadist, seorang sahabat berkata, bahwa suatu ketika malam bulan purnama yang terang benderang, ia berkali – kali memandangi wajah Rasulullah SAW dan membandingkannya dengan rembulan. Maka didapainya bahwa wajah Rasulullah terkasih lebih indah dari rembulan. Subhanallah.
Rasul adalah manusia biasa, sebagaimana yang lainnya. Keberadaannya adalah agar manusia tahu bagaimanan mesti hidup di dunia. Hidup kita adalah masalah. Bahkan kematian bukanlah akhir dari masalah, bahkan menjadi awal dari masalah terbesar yang harus kita hadapi.
Hidup memang masalah, banyak kesulitan melanda dan peluang untuk berputus asa tidaklah sempit. Namun Allah Yang Maha Adil-lah membuatnya mudah dengan mengutus Rasul-Nya. “Dan tidak kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagi rahmat bagi semesta alam” (Q.S. Al-Anbiya':107). Kita hidup di akhir zaman, mendapat tantangan berat.
Memegang amanah menjadi khalifatu fil ard, bagai menggenggambara panas.
Allah membuka kesempatan pada hamba-Nya, melalui Rasul panutan umat. Semakin mirip seorang hamba pada Rasulullah, maka semakin dekat dia dengan Allah. Sebab, memang untuk itulah Rasul diutus. Untuk menjadi contoh bagaimana mestinya bersikap.Maka, mengenal Rasulullah adalah kekayaan yang tak ternilai harganya bagi kita. Rasulullah sungguh-sungguh dicipta oleh Allah untuk menjadi tauladan. Diamnya, pembicarannya pula tindakannya, seluruh ujung rambut sampai pangkal kaki adalah pelajaran. Seluruhnya adalah referensi pembawa keselamatan bagi pengikutnya. Wallahu'alambishawab.
(Di olah dari Majalah Al-Falah)
(Di olah dari Majalah Al-Falah)

0 komentar:
Posting Komentar