Satelit Korsel Gagal Masuki Orbit




SEOUL--MI:
Satelit Korea Selatan (Korsel) gagal memasuki orbit sasarannya setelah berhasil memisahkan diri dari roket pengantarnya.

"Kami tak dapat menemukan satelit tersebut di orbitnya, tempat satelit itu mestinya berada," kata Menteri Ilmu Pengetahuan Ahn Byung-man dalam suatu taklimat, Selasa (25/8). Ia menyebutnya kegagalan sebagian.

Namun, pemerintah menyatakan Seoul belum mengidentifikasi penyebab pasti peristiwa itu. Pemerintah sedang mengamati satelit tersebut. Meskipun berjalan sebagaimana rencana, satelit terpisah pada ketinggian 26 kilometer lebih tinggi dari posisi sasarannya.

"Kami sekarang melakukan analisis guna memeriksa seberapa jauh satelit itu menyimpang dari orbit sasarannya," kata Lee Joo-jin, pemimpin pusat ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab atas peluncuran tersebut. Ditambahkannya, satelit itu tak memiliki peluncur sendiri yang berarti satelit tersebut tak dapat ditempatkan di orbit lagi.

Namun, Lee tak bersedia mengatakan kontak dapat dilakukan dengan satelit itu dan juga tak mengatakan bahwa satelit tersebut telah hilang. Kendaraan-1 Peluncuran Antariksa Korea (KSLV-1), yang membawa satelit itu, diluncurkan pukul 05.09 waktu setempat (17:00 WIB). Awalnya, roket berhasil melakukan pemisahan tahap-1 dan tahap-2.

LIPI Luncurkan Satelit Rada Pertama Indonesia

SUBANG--MI: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kamis (20/8), meluncurkan prototipe I dari Radar Pengawas Pantai yang diberi nama Indonesian Scientific Journal Database (ISRA), sebagai radar pertama buatan Indonesia.

Terciptanya radar pertama Indonesia ini merupakan bukti bahwa peneliti Indonesia mampu membuat alat berteknologi tinggi, kata Kepala LIPI, Prof. Dr. Umar Anggara Jenie dalam acara peluncuran yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI di Subang, Jawa Barat (Jabar). Acara tersebut digelar dalam rangkaian ulang tahun ke-42 LIPI.

\"Daripada kita harus membeli peralatan teknologi ke luar negeri dengan harga mahal, lebih baik mendorong peneliti bangsa untuk membangun kemandirian bangsa,\" kata Umar.

Peneliti pada Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Dr. Mashury Wahab, menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan selama tiga tahun.

\"Kami memiliki tim peneliti sebanyak 20 orang untuk penelitian dan pengembangan ISRA ini,\" ungkap Mashury.

Sebelumnya, kata dia, para peneliti tersebut diberi bantuan oleh Pemerintah Belanda untuk pendidikan dasar. \"Setelah mendapatkan dasar pendidikan kemudian kami aplikasikan dan kembangkan,\" lanjutnya.

Radar pengawas pantai ISRA ini, kata Mashury, menggunakan teknologi Frequency-Modulated Continuous Wave (FM-CW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar menjadi lebih kecil.

\"Mekipun dalam ukuran yang kecil tapi tidak mengurangi keunggulan-keunggulan yang dimiliki radar ini,\" ujarnya.

Salah satu fungsi radar pengawas pantai ini, kata dia, adalah mendeteksi keberadaan kapal di laut yang sedang mendekat.

\"Radar ini akan mendeteksi kapal yang berada dalam jangkauan kerja radar ini yang kemudian akan ditampilkan di monitor,\" katanya. Dia menambahkan bahwa radar tersebut mampu mendeteksi hingga jarak 64 km.

Sebetulnya, kata Mashury, teknologi radar pengawas pantai ini akan terus dikembangkan hingga radar jenis tiga.

\"Kami masih terus mengembangkan beberapa jenis radar semacam ISRA yaitu satu jenis direncanakan selesai pada tahun 2010 mendatang dan satu jenis lagi selesai pada tahun 2011 mendatang,\" katanya.

Seluruh radar ini tersebut akan bekerja secara berhubungan. \"Kelak ketiga radar ini akan bekerja secara berhubungan sehingga kita tidak perlu memantau langsung ke lokasi penempatan radar karena telah terhubung melalui monitor,\" jelasnya.

Beberapa komponen dalam radar itu, kata dia, masih harus diimpor. \"Terdapat 60 persen komponen radar ISRA yang diimpor dari luar negeri,\" ujarnya.

Untuk penelitian dan pengembangan radar tersebut Mashury menjelaskan bahwa pihaknya telah mengeluarkan dana hingga Rp3 miliar.

\"Dana ini terbilang efisien dibandingkan dengan biaya radar yang harus dibeli dari Polandia dengan harga mencapai Rp9 miliar,\" demikian Mashury Wahab.

Ada Apa Diantara Kepemimpinan Umar dan Utsman?

















Tak ada perdebatan panjang ketika Abu Bakar Siddiq ra menjadi khalifah meneruskan apa yang telah dibangun Rasulullah saw. Walau telah muncul riak-riak dari mereka kaum munafik seperti enggan membayar zakat, tapi Abu Bakar tetap tegas dalam segala urusannya. Di samping itu, Abu Bakar mempunyai seorang Umar bin Khattab yang sanggup menjadi penyelesai kerikil-kerikil dalam dakwah Islam ketika itu.

Ketika Abu Bakar mangkat, tak banyak pula debat kusir siapa harus menggantikannya. Umar bin Khattab menjadi satu-satunya kandidat yang paling memenuhi syarat di antara yang lainnya. Namun ketika mencari pengganti Umar bin Khattab, umat mulai terbelah dengan keraguan yang begitu tinggi: Siapa di antara Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Saad bin Malik, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah? Ini berdasarkan dari perkataan Rasulullah sebelum wafat, “Hai umatku, Abu Bakar sedikitpun tak pernah mengecewakanku, maka ketahuilah haknya itu. Hai umatku, aku ridho kepada Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Malik, Abdurrahman bin Auf, serta Muhajirin yang mula pertama, maka ketahuilah hak mereka itu.” Abu Bakar dan Umar wafat, maka hanya tertinggal enam orang tersebut.

Abdurrahman buru-buru mengundurkan diri dengan menyatakan, “Hendaknya aku hanya ingin memilih saja, bukan dipilih.” Ia pun mendatangi rakyat untuk mengumpulkan opini dan kecenderungan rakyat. Di sinilah mulai terkuak sesuatu yang kelak menjadi pengulangan sejarah beradab-abad kemudian bahkan sampai kini. Di antara keenam orang itu, jelas Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib menjadi yang paling diutamakan—ini karena kelebihan-kelebihan mereka tentu saja. Tapi siapa: Ustman ataukah Ali?

Umat akhirnya memilih Ustman.

Seperti kita ketahui, Umar bin Khattab memimpin dengan ketat. Ia tak akan segan menyeret gubernurnya yang hidup mewah, bahkan memecatnya. Cara yang ditempuh oleh Umar adalah mengurangi keinginan untuk bersenang-senang, bahkan dalam hal-hal yag terhitung halal. Ini dilakukannya agar tidak terlena pada kenikmatan duniawi—bayangkan, Umar adalah seorang khalifah, dan ia mungkin tinggal menjentikan jari jika menginginkan sesuatu, tapi itu tidak ia lakukan.

Umar memulai dari dirinya sendiri, keluarganya, serta karib kerabatnya. Jika terdengar seorang pembesar yang hidup mewah, dengan segera dipanggilnya ke Madinah, kemudian diperkarakan. Bila di kemudian hari, pembesar itu masih melakukan hidup seperti itu juga, Umar memecatnya. Tujuan Umar jelas, agar umat menemukan pada pribadi pembesar mereka sebuah teladan yang membantu mereka untuk tidak terpikat oleh gelimang harta dan silau dunia.

Beberapa hari setelah diangkat jadi khalifah, Ustman teringat akan sebuah kejadian. Ketika hari yang panas menyengat, Ustman tengah berada dalam rumahnya, memandang keluar jendela dan dilihatnya seseorang yang menyusuri jalan. Ustman berpikir orang itu adalah seorang musafir, maka ia sudah menyiapkan diri untuk memanggilnya jika sudah dekat rumahnya, agar lelaki itu menepi dan berteduh dahulu, dan Ustman akan diberinya pertolongan dari kesusahan yang dialaminya.

Namun alangkah terkejutnya Ustman ketika mendapati lelaki itu adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Umar sempoyongan menghela seekor unta yang berjalan di belakangnya. Matahari jelas telah menyengat Umar sedemikian rupa. Ustman bergegas menghampiri Amirul Mukminin, “Dari mana engkau Amirul Mukminin?”

“Sebagaimana yang kau lihat,” jawab Umar tersenyum, “Ada seekor unta dari hasil zakat yang lepas dan melarikan diri. Hingga aku segera menyusulnya, kemudian membawanya pulang kembali.”

Ustman mengerutkan keningnya, “Bukankah masih ada orang lain selain engkau yang bisa melakukan pekerjaan itu?”

“Tetapi,” tukas Umar lagi, “siapakah yang bersedia menggantikan aku di pengadilan Illahi, kelak?” Ustman meminta Umar untuk beristirahat sejenak menunggu panas matahari mereda. Tapi Umar bin Khattab menolak. “Kembalilah ke tempatmu, hai Ustman…” ujarnya.

Umar melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Ustman, “Sungguh, engkau telah menyusahkan orang yang akan menjadi penggantimu, Amirul Mukminin…” gumam Ustman seraya tertunduk. Ustman sadar sepenuhnya, bahwa orang-orang menyokongnya untuk menjadi khalifah—bukannya Ali bin abi Thalib. Itu disebabkan keinginan umat yang ingin bebas dari aturan dan gaya hidup yang diterapkan dan dijalani Umar bin Khattab selama ini. Jika Ali yang menjadi khalifah, maka akan merupakan kelanjutan sistem yang ditempuh Umar, yaitu tegas dan ketat.

Ustman berpendirian bahwa harta itu diciptakan untuk mempermudah dan memperlancar kehidupan. Selama harta itu halal dan diperbolehkan menikmatinya, ia mempersilakan umat untuk memperoleh kebahagian hidup dan kenikmatan dunia—tidak peduli ia pejabat, pembesar , atau rakyat biasa. Bagi Ustman, tidak ada alasan untuk memcat seorang gubernurnya yang hidup mewah dan mereguk kehidupan duniawi, selama ia tidak melakukan dosa dan berbuat salah. Ustman tidak seperti Umar yang menganggap harta kekayaan akan menimbulkan bahaya layaknya minuman keras.

Sejak kepimpinan Ustman, dimulailah kehidupan umat yang bergelimang harta dan sedikit demi sedikit, dan akhirnya sepenuhnya menjadi terbuka pada berbagai kecenderungan harta duniawi selama beratus tahun, dan mungkin sampai kini—mereka berpegang, bahwa Ustman pun, salah satu yang dikasihi oleh Rasulullah saw membolehkan hidup mewah. Namun umat lupa bahwa Ustman, yang membolehkan kehidupan mewah, tidak menjalani hidup mewah, hanya sedikit berkecukupan. Ustman adalah seseorang yang peka terhadap keadaan dan kebutuhan orang lain, mendahulukan kepentingan orang banyak, lemah lembut, dan cerdas. Inilah yang tidak dicontoh dari umat berikutnya; mereka mengambil yang diperbolehkan Ustman bin Affan namun mengabaikan sifat Ustman yang demikian mulia. Mereka membolehkan diri hidup mewah namun sama sekali tidak peka terhadap kesulitan yang diderita umat. Wallohu alam bishawwab.

TNI AL Menambah 14 Orang KOPASKA dan 42 Yontaifib





SURABAYA--MI:
Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL (Kobangdikal) telah berhasil menggembleng 14 prajurit Pasukan Katak dan 42 prajurit Intai Amfhibi (Taifib).

Dengan demikian, TNI AL telah menambah kemampuan dan daya dobraknya dengan bergabungnya 56 prajurit Pasukan Elit TNI AL yang memiliki kemampuan khusus itu. Ke-56 pasukan khusus TNI AL itu berhak atas brevet pasukan katak dan trimedia Taifib Marinir setelah berhasil mengikuti pendidikan selama 10 bulan di Kobangdikal. Menurut siaran pers yang diterima Media Indonesia, penyematan brevetnya sendiri dilakukan oleh Wadan Kobangdikal Brigjen TNI (Mar) Arief Suherman di Kobangdikal, Bumimoro, Surabaya, Jumat (28/8).

Dalam masa 10 bulan penggemblengan tersebut, ke-56 prajurit calon pasukan elit TNI AL ini telah mengalami pendidikan yang berbeda dengan pendidikan prajurit biasanya. Tingkat kesulitan, bobot, dan risiko latihannya pun lebih tinggi bila dibanding dengan prajurit lainnya. Hal ini dimaklumi karena pasukan elit memang disiapkan untuk melaksanakan tugas-tugas khusus dengan tingkat tekanan yang tinggi namun harus tetap cermat, tepat, dan akurat dalam pelaksanaanya.

Setiap tahunnya, Kobangdikal sebagai lembaga pencetak SDM TNI AL, senantiasa meluluskan prajurit dengan kualifikasi khusus seperti Paska dan Taifib dalam jumlah terbatas. Ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas lulusan dalam tiap angkatan. Lulusan kali ini adalah Dikpaska angkatan ke-32 yang digembleng di Pusat Pendidikan Khusus, Kodikosla. Sementara itu, Diktaifib angkatan ke-35 digembleng di Pusdik Infantri Marinir, Kodikmar Gunugsari.