LIPI Luncurkan Satelit Rada Pertama Indonesia

SUBANG--MI: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kamis (20/8), meluncurkan prototipe I dari Radar Pengawas Pantai yang diberi nama Indonesian Scientific Journal Database (ISRA), sebagai radar pertama buatan Indonesia.

Terciptanya radar pertama Indonesia ini merupakan bukti bahwa peneliti Indonesia mampu membuat alat berteknologi tinggi, kata Kepala LIPI, Prof. Dr. Umar Anggara Jenie dalam acara peluncuran yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI di Subang, Jawa Barat (Jabar). Acara tersebut digelar dalam rangkaian ulang tahun ke-42 LIPI.

\"Daripada kita harus membeli peralatan teknologi ke luar negeri dengan harga mahal, lebih baik mendorong peneliti bangsa untuk membangun kemandirian bangsa,\" kata Umar.

Peneliti pada Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Dr. Mashury Wahab, menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan selama tiga tahun.

\"Kami memiliki tim peneliti sebanyak 20 orang untuk penelitian dan pengembangan ISRA ini,\" ungkap Mashury.

Sebelumnya, kata dia, para peneliti tersebut diberi bantuan oleh Pemerintah Belanda untuk pendidikan dasar. \"Setelah mendapatkan dasar pendidikan kemudian kami aplikasikan dan kembangkan,\" lanjutnya.

Radar pengawas pantai ISRA ini, kata Mashury, menggunakan teknologi Frequency-Modulated Continuous Wave (FM-CW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar menjadi lebih kecil.

\"Mekipun dalam ukuran yang kecil tapi tidak mengurangi keunggulan-keunggulan yang dimiliki radar ini,\" ujarnya.

Salah satu fungsi radar pengawas pantai ini, kata dia, adalah mendeteksi keberadaan kapal di laut yang sedang mendekat.

\"Radar ini akan mendeteksi kapal yang berada dalam jangkauan kerja radar ini yang kemudian akan ditampilkan di monitor,\" katanya. Dia menambahkan bahwa radar tersebut mampu mendeteksi hingga jarak 64 km.

Sebetulnya, kata Mashury, teknologi radar pengawas pantai ini akan terus dikembangkan hingga radar jenis tiga.

\"Kami masih terus mengembangkan beberapa jenis radar semacam ISRA yaitu satu jenis direncanakan selesai pada tahun 2010 mendatang dan satu jenis lagi selesai pada tahun 2011 mendatang,\" katanya.

Seluruh radar ini tersebut akan bekerja secara berhubungan. \"Kelak ketiga radar ini akan bekerja secara berhubungan sehingga kita tidak perlu memantau langsung ke lokasi penempatan radar karena telah terhubung melalui monitor,\" jelasnya.

Beberapa komponen dalam radar itu, kata dia, masih harus diimpor. \"Terdapat 60 persen komponen radar ISRA yang diimpor dari luar negeri,\" ujarnya.

Untuk penelitian dan pengembangan radar tersebut Mashury menjelaskan bahwa pihaknya telah mengeluarkan dana hingga Rp3 miliar.

\"Dana ini terbilang efisien dibandingkan dengan biaya radar yang harus dibeli dari Polandia dengan harga mencapai Rp9 miliar,\" demikian Mashury Wahab.

0 komentar:

Posting Komentar