Ia tidak pernah menggeluti pekerjaan tertentu di masa jahiliyah, menggemari pekerjaan seperti latihan menunggang kuda, lomba pacuan kuda, dan berburu.
Saudaranya, Walid, pernah mengirimkan surat padanya dalam rangka mengajaknya masuk Islam. Dalam surat tersebut Walid menuliskan :
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma Ba'du.
Sesungguhnya aku belum pernah melihat sesuatu yang paling aneh dari keenggananmu masuk Islam, gunakanlah akal sehatmu! Pantaskah orang seperti anda tidak mengerti tentang Islam?! Rasulullah pernah bertanya kepadaku,”Dimana Khalid?” Aku menjawab, “Mudah-mudahan Allah mendatangkannya.” Nabi mengatakan,”Pantaskah orang seperrti dia tidak mengerti tentang Islam? Seandainya dia menjadikannya dendamnya dan kesungguhannya bersama pasukan kaum muslimin, niscaya hal itu lebih baik baginya, dan kami akan mendahulukannya sebagai panglima perang daripada yang lainnya.” Pikirkanlah wahai saudaraku! Sebab kamu telah kehilangan banyak peluang untuk meraih amal shaleh.”
Ketika melihat ada kelemahan dalam barisan pasukan muslimin dalam perang Al-Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzdzab, ia menyerukan untuk memisahkan barisan pasukan kaum muslimin. Ia memisahkan barisan pasukan Muhajjirin kaum dari pasukan kaum Anshar dan memisahkan pasukan tiap kabilah. Dengan strategi ini, pasukan kaum muslimin meraih kemenangan gemilang yang belum pernah mereka raih sebelumnya.
Ketika pemimpin pasukan tentara Romawi bertekad untuk memerangi kaum muslimin, Abu Bakar mengatakan di hadapan kaum muslimin,”Demi Allah, aku akan memerangi mereka dengan Khalid.”
Mahan, panglima pasukan Romawi,pernah mengatakan kepada Khalid,” Kami telah mengetahui bahwa kalian tidak akan keluar dari wilayah kalian kecuali karena kelaparan dan dengan susah payah. Jika kalian mau, aku akan memberi setiap parajurit diantara kalian 10 dinar, pakaian, dan makanan, dengan kompensasi kalian meninggalkan wilayah kami dan kembali ke wilayah kalian.” Khalid dengan tegas menjawab,”Bukan kelaparan yang mendorong kami keluar dari wilayah kami, sebagaimana yang telah anda sebutkan tadi. Tapi kami adalah kaum yang meminum darah. Kami telah mengetahui bahwa tidak ada darah yang paling segar paling baik kecuali darah orang-orang Romawi. Karena itulah kami datang ke wilayah anda!”
Khalid bin Walid adalah panglima perang yang sangat lihai dan cerdik menghadapi musuh dan menghalau pasukan yang ingin melakukan desersi dari pasukannya. Al-Hafizh bin Katsir pernah mensifati Khalid sebagai orang yang tidak pernah tidur dan tidak akan membiarkan pasukannya tertidur.
Ketika akan meninggal, ia mengatakan,”Aku telah menyaksikan sekian banyak serdadu. Aku telah menghadapi sekian banyak serdadu dan ditubuhku tidak ada tempat melainkan disana ada bekas tikaman pedang, tombak, dan tusukan anak panah. Dan inilah aku, yang akan mati di atas pembaringanku sebagaimana matinya seekor onta.” Ia meninggal di Himsh atau di Madinah tahun 21 H. Di era modern sekarang ini, strategi-strategi perang Khalid bin Walid masih dipelajari di berbagai universitas di Jerman dan Inggris.

0 komentar:
Posting Komentar